Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra
Posted On Rabu, 25 Mei 2011 at di 16.05 by Language Access CentrePada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di
dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan
kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan
lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra
merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan,
serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya
sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus
pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus
sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi
karya sastra.
Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah
sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari
waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya
bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan,
diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang
menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya
sastra pada periode-periode tertentu.
Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra
dan kritik sastra terjalin keterkaitan.
Strukturalisme Genetik Goldmann
Posted On Minggu, 22 Mei 2011 at di 04.08 by Language Access CentrePendahuluan
Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori ini dikemukakannya pada tahun 1956 dengan terbitnya buku The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the tragedies of Racine. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran Jean Piaget, Geogre Lukacs, dan Karl Marx. Menurut Faruk (2003: 12) Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Artinya, ia tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga ia menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara langsung menghubungkan antara teks sastra dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Sebab, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari sejarah yan terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal teks sastra yang bersangkutan. Strukturalisme genetik mencoba mengkaitkan antara teks sastra, penulis, pembaca (dalam rangka komunikasi sastra), dan struktur sosial.
Ratna (2006: 122) mengatakan bahwa strukturalisme genetik memiliki implikasi yang lebih dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu kemanusiaan pada umumnya. Sebuah struktur, bagi Goldmann, harus disempurnakan agar memiliki makna, di mana setiap gejala memiliki arti apabila dikaitkan dengan struktur yang lebih luas, demikian seterusnya hingga setiap unsur menopang totalitasnya.
Untuk menghasilkan sebuah totalitas, Goldmann menawarkan metode dialektik yang pada prinsipnya pengetahuan mengenai fakta-fakta kemanusiaan akan tetap abstrak apabila tidak mengintegrasikannya ke dlaam keseluruhan. Karena itu metode dialektik menegmbangkan dua pasangan konsep, yaitu, “keseluruhan-bagian” dan “pemehaman-penjelasan”. Metode dialektik sama dengan metode posifistik, keduanya sama-sama bermula dan berakhir pada karya sastra. Hanya saja pada metode positivistik tidak mempertimbangkan persoalan koherensi struktural, metode dialektika mempertimbangkannya.
Strukturalisme genetik ini merupakan gerakan penolakan strukturalisme murni, yang hanya menganalisis unsur-unsur intrinsik saja tanpa mengindahkan hal-hal di luar teks sastra itu sendiri. Gerakan ini juga menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas, bahasa sastra. (Ratna, 2006: 121).
Secara definitif, Ratna (2006: 123) menjelaskan lebih lanjut bahwa strukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul teks sastra. Meskipun demikian, sebagai teori yang sudah teruji validitasnya, strukturalisme genetic masih ditopang oleh beberapa konsep teori sosial lainnya; fakta kemanusiaan (Faruk, 1999: 12), simetri atau homologi, kelas-kelas social, subjek transindividual, dan pandangan dunia (Ratna, 2006: 123). Konsep-konsep inilah yang membawa strukturalisme genetik pada masa kejayaannya sekitar tahun 1980 hingga 1990.
Struktur karya Sastra
Goldman mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya, yang pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Sedangkan yang kedua adalah bahwa dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner.
Dari dua pendapatnya itu, Goldmann mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik, yang memusatkan perhatian pada relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada disekitarnya. Dengan demikian, Goldmann membdedakan tekjs sastra dengan filsafat yang mengungkapkan pandangan dunia secara konseptual dan sosilogi yang mengekspresikan pandangan dunia secara empirisitas.
Sifat tematik dari konsep struktur Goldmann itu terlihat pula pada konsepnya mengenai novel. Berkaitan dengan pentinganya pendekatan strukturalisme genetik, Goldmann mengkaji dua hal yang dianggpanya saling bersangkutan, yakni cara meneliti novel (baca: teks sastra) itu sendiri dan hubungannya dengan sosio-budaya.
Mengenai novel itu sendiri, goldmann kemudian mendefinisikannya sebagai cerita tentang pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai otentik dalam dunia yang terdegradasi oleh seorang tokoh yang probematik. Yang dimaksud dengan nilai-nilai yang otentik adalah totalitas yang secara tersirat muncul dalam novel, nilai-nilai yang mengorganisasi sesuai dengan mode dunia sebagai totalitas. Yakni, nilai-nilai yang hanya ada dalam kesadaran penulis/pengarang dengan bentuk konseptual dan abstrak.
Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan merupakan hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta kemanusiaan dalam Strukturalisme genetik dibagi kedalam dua bagian yaitu, fakta individual dan fakta sosial. Goldmann via Faruk (1999: 13) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Fakta-fakta manusia ini memiliki arti karena bersentuhan dnegan subjek kolektif ataui individual. Dengan kata lain, Fakta-fakta kemanusiaan ini merupakan hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar.
Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus menerus suatu karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, sebagai hasil aktivitas cultural manusia. Proses tersebut sekaligus merupakan genetic dari struktur karya sastra.
Homologi
Homologi menurut Ratna (2006: 122) diturunkan melalui organisme primitif yang sama dan disamakan dengan korespondensi, kualitas hubungan yang bersifat struktural. Homologi memiliki implikasi dengan hubungan bermakna antara struktur literer dengan struktur sosial. Nilai-nilai yang otentik yang terdapat pada strukturalisme genetik menganggap bahwa karya sastra sebagai homolagi antara struktur karya sastra dengan struktur lain yang berkaitan dengan sikap suatu kelas tertentu atau struktur mental dan pandangan dunia yang dimiliki oleh pengarang dan penyesuaiannya dengan struktur sosialnya.
Kelas-kelas Sosial
Kelas-kelas sosial adalah kolektivitas yang menciptakan gaya hidup tertentu, dengan struktur yang ketat dan koheren. Kelas merupakan salah satu indikator untuk membatasi kenyataan sosial yang dimaksudkan oleh pengarang untuk mempengaruhi bentuk, fungsi, makna, dan gaya suatu karya seni. Dikaitkan dengan strukturalisme genetik kelas yang dimaksudkan adalah kelas sosial pengarang karena karya sastra sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan pengarang.
Dalam hubungan inilah, sesuai dengan pandangan Marxis, karya disebut sebagai wakil kelas sebab karya sastra dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi kelompoknya. Dikaitkan dengan pengarang, latar belakang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu latar belakang karena afiliasi dan karena kelahiran.
Subjek Transindividual
Meskipun istilah transindividual diadopsi oleh Goldmann dari khazanah intelektual Marxis, khususnya Lukacs, Goldmann tidak menggunakan istilah kesadaran kolektif dengan pertimbangan istilah ini seolah-olah menonjolkan pikiran-pikiran kelompok. Sebaliknya, Konsep transindividual menurut Goldmann, menampilkan pikiran-pikiran individu tetapi dengan struktur mental kelompok.
Menurut Faruk, subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang di dalamnya individu hanya merupakan bagian. Subjek transindividual bukanlah kumpulan individu-individu yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
Meskipun demikian, subjek transindividual merupakan konsep yang masih kabur. Subjek transindividual itu dapat kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Goldmann menspesifikasikannya sebagai kelas sosial dalam pengertian Marxis sebab baginya kelompok itulah yang terbukti dalam sejarah sebagai keompok yang telah menciptakan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan dan yang telah mempengaruhi perkembangan sejarah umat manusia. Dalam strukturalisme genetik, subjek transindividual merupakan energi untuk membangun pandangan dunia.
Pandangan Dunia
Pandangan dunia memicu subjek untuk mengarang, dan dianggap sebagai salah satu ciri keberhasilan suatu karya. dalam rangka strukturalisme genetik, pandangan dunia berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektivitas tertentu. Melalui kualitas pandangan dunia inilah karya sastra menunjukkan nilai-nilainya, sekaligus memperoleh artinya bagi masyarakat.
Menurut Goldmann via Faruk (1999: 15) pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota kelompok sosial tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompk sosial yang lainnya. Masih menurut goldman pandangan dunia merupakan kesadaran kolektif yang dapat digunakan sebagai hipotesis kerja yang konseptual, suatu model, bagi pemahaman mengenai koherensi struktur teks sastra.
Pandangan dunia ini berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya. Pandangan dunia tidak lahir dengan tiba-tiba , transformasi mentalitas yang lama secara berlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru dan teratasinya mentalitas yang lama.
Penelitian dengan Metode Strukturalisme Genetik
Sapardi Djoko Damono memberikan ciri-ciri strukturalisme genetik sebagai suatu metode, yaitu:
1. Perhatiannya terhadap keutuhan dan totalitas: kaum strukturalis percaya bahwa yang menjadi dasar telaah strukturalisme genetik bukanlah bagian-bagian totalitas tetapi jaringan hubungan yang ada antara bagian-bagian itu, yang menyatukannya menjadi totalitas.
2. Strukturalisme genetik tidak menelaah struktur pada permukaannya, tetapi struktur yang ada di balik kenyataan. Kaum strukturalis berpandangan bahwa yang terlihat dan terdengar, misalnya, bukanlah struktur yang sebenarnya, tetapi hanya bukti adanya struktur.
3. Analisis yang dilakukan oleh kaum strukturalis menyangkut struktur yang sinkronis (bukan diakronis). Perhatian kaum strukturalis lebih difokuskan pada hubungan-hubungan yang ada pada suatu saat di suatu waktu, bukan dalam perjalanan waktu. Struktur sinkronis dibentuk oleh jaringan hubungan structural yang ada.
4. Strukturalisme genetik adalah metode pendekatan yang antikausal. Kaum strukturalis dalam analisisnya sama sekali tidak menggunakan sebab-akibat; mereka menggunakan hukum perubahan bentuk.
Langkah-langkah penelitian dengan metode strukturalisme genetik yang ditawarkan oleh Laurenson dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman:
1. penelitian sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula diteliti strukturnya untuk membuktikan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik.
2. penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra yang dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang dihubungkan dengan dunia pengarang.
3. untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencari premis general.
Sumber:
Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strkturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jabrohim (editor). 2001. Metodologi Penelitian Sastra .Yogyakarta: Hanindika.
Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
FBS untuk masa depan
Posted On at di 04.06 by Language Access CentreTgl 31 Juni-2 Mei prodi d-3 bhs jepang unipdu akan mendapatkan kunjungan dari asesor ban-pt. mohon doa dan dukungannya agar status prodi jepang bisa mendapat yang terbaik
Informasi terbaru
Posted On Kamis, 05 Mei 2011 at di 10.00 by Language Access CentreLAC Unipdumempunyai buku baru di bidang linguistik dan penerjemahan...silahkan datang ke lAC setiap jam kerja 08.00 - 14.00
Information
Posted On Senin, 21 Maret 2011 at di 19.19 by Language Access CentreTelah dibuka prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris serta pendidikana Matematika UNIPDU Jombang. Izin beroperasi kedua prodi tersebut 2 minggu yang lalu telah keluar dan bisa menerima mahasiswa mulai tahun ajaran 2011/2012. Semoga kedua prodi tersebut bisa membawa UNIPDU menjadi kampus berazaskan peasantren menjadi semakin maju dan makin beragam pula keilmuan yang di ajarkan. thanks
UNIPDU Year of Discipline
Posted On Selasa, 08 Maret 2011 at di 16.44 by Language Access CentreTahun 2011 ini telah dicanangkan oleh rektor UNIPDu Prof Zahro, sebagai tahun disiplin bagi semua warga UNIPDU. Semua lapisan baik staff dosen ataupun mahasiswa. Di harapkan agar UNIPDU kelak bisa menjadi kampus yang small tapi beautiful
Info buku
Posted On Kamis, 03 Maret 2011 at di 19.57 by Language Access CentreLAC telah menambah 3 buku baru. ketiga buku tersebut terbitan tahun 2000an. Buku-buku tersebut adalah The Encyclopedia linguistic. The british literature criticism, dan Lord of the ring criricism. dengan adanya buku tersebut, bisa membantu mahasiswa FBS UNIPDU dalam proses belajar mereka. dan LAC akan terus menambah buku2 baru secara bertahap, denagan target utama di tahun 2014 LAC Unipdu bisa memenuhi kebeutuhan mahasiswa UNIPDU sendiri. Have fun..
